Tag
By: Akido Akida
Lelaki itu berjalan menuju masjid yang tak jauh dari rumahnya, dengan suara yang tenang namun cukup untuk membangunkan jiwa-jiwa manusia yang terlelap tidur dia membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an hingga adzan berkumandang. Dia tak pernah absen dari kegiatan rutin tersebut, kecuali jika sakit berat menimpanya. Kukira dia adalah seorang ustadz di kampung ini, namun ternyata perkiraanku salah, bahkan dia juga bukan seorang marbot sekalipun. Dia hanyalah petani miskin yang tinggal di desa ini, seorang petani yang meminjam sawah orang. Sedangkan aku hanyalah seorang pegawai negeri yang sedang mengontrak rumah di salah satu rumah warga.
Awalnya aku sedikit terganggu dengan rutinitasnya itu, namun lama-kelamaan aku rindu jika dia absen dari rutinitas tersebut, rutinitas itu sudah dia lakukan semenjak dia masih remaja begitu kata penduduk desa ini. Namun ternyata bukan aku seorang yang merindukan suara seraknya, bacaannya bagus menurutku, walaupun masih banyak bacaan yang salah, para tetangganya ternyata juga merindukan suaranya. Aku juga sering mampir ke rumahnya, tepatnya main, tak jarang aku membantunya sekedar memegang bambu yang sedang digergajinya ataupun membantunya memaku beberapa bambu. Selain bertani terkadang dia menerima orderan kuli, tak jarang juga dia mendapat orderan untuk membuat kandang ayam dari penduduk setempat. Pekerjaan diaa tak menentu, jika tidak ada sawah yang bias disewa atau tidak ada uang untuk menyewa dia mensiasatinya dengan membuat batu bata merah. Kagum, begitulah perasaanku ketika mengenalnya.
Di usainya yang senja dia tak pernah mengantungkan hidupnya ke orang lain, bahkan anaknya sekalipun. Oh iya, dia bernama Darmo dan istrinya bernama Darmi dengan dua anak laki-laki, anak yang kedua kini hidup sebagai pedagang kaki lima di pasar bernama Kamal, sedangkan anak pertamanya kini menjadi buruh pabrik, dialah Samsu. Biasa kupanggil Mas Samsu. Umurnya lebih tua dari aku tentunya. Kini dia tinggal bersama istri tercintanya di sebuah rumah kontrakan dekat pabrik tempat dia bekerja.
Mas Samsu dan Kamal tak pernah rukun dari kecil, selalu ada hal yang bias membuat mereka bertengkar dan bertengkar. Sifat merekapun jauh berbeda, Mas Samsu lebih penyabar sedangkan Kamal adalah orang yang beremosi tinggi. Kehidupan Kamal bahkan rusak, tak jarang dia pulang dalam keadaan mabuk berat jika ada sedikit masalah menimpanya. Hasil keuntungan yang dia peroleh sering kali habis diatas meja judi atau habis untuk menegak minuman keras. Tak jarang Kamal berhutang, bahkan makin hari-makin menumpuk, tak jarang pula Pak Darmo yang harus melunasinya.
Sore itu pertengkaran hebat terjadi antara anak dan bapak, entah apa yang dipertengkarkan, aku tak tahu pasti, aku hanya bias mendengar samar-samar dari kejahuan.
“Bapak pilih kasih, selau saja Samsu, Samsu dan Samsu, aku tak pernah dihiraukan” teriak Kamal.
Aku sedih mendengarnya, akupun teringat cerita-cerita Pak Darmo ketika aku berkunjung ke rumahnya. Sebenarnya Kamallah anak kesayangan Pak Darmo, namun kamal tidak pernah menyadarinya sejak dulu, sudah banyak yang Pak Darmo korbankan untuknya namun tetap saja kamal tak menganggapnya. Terkadang raut kesedihan terpancar jelas diwajah Pak Darmo ketika dia bercerita tentang Kamal, dia begitu menyesal terlalu memanjakannya hingga akhirnya Kamal menjadi seperti ini. Bu Darmi yang tak tahan melihat pertengkaran itu akhirnya menjauh meninggalkan rumah menuju ruamah kontrakan anak pertamanya. Kata-kata kotor sudah biasa Kamal lontarkan untuk kedua orang tuanya namun pak Darmo selalu sabar menasehatinya, tapi justru kata-kata yang lebih kasar yang dia dapatkan dari anaknya, hingga akhirnya Pak Darmo memutuskan untuk diam. Pertengkaran kali ini berbeda dengan sebelumnya, emosi Pak Darmo sudah tak terbendung lagi hingga akhirnya Pak Darmo mengusir Kamal dari rumah. Entah apa yang mereka pertengkarkan, aku hanya mendengar bahwa Kamal meminta hak warisannya untuk dijual.
Pagi ini terasa ada yang kurang ketika aku tak lagi mendengar suara serak lelaki fajar. Lelaki fajar begitulah aku menyebut Pak Darmo, karena setiap fajar aku selalu merindukan suaranya. Seusai shalat subuh akupun menanyakan ke beberapa jamaah, namun tak ada seorangpun yang tahu. Aku dan beberapa jamaaah penasaran dan akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi rumahnya. Rumah Pak Darmo terlihat sepi, seperti tak ada kehidupan di dalamnya, lampu teras rumahpun masih menyala terang sedangkan rumahnya masih gelap.
“Mungkin dia pergi ke rumah anak pertamanya kali” kata seorang jamaah.
“Iya, bisa jadi begitu Pak” jawabku.
“Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu ya” kata jamaah yang lain.
“Saya juga pamit pak ada tugas yang belum selesai, mari Pak, assalmualaikum” akupun berlalu meninggalkan perkarangan rumah Pak Darmo.
Sore itu kulihat Bu Darmi berjalan sendirian, aku yang mengendarai sepedamotor mendekatinya,
“Bu, mari saya boncengkan” tawarku.
“Tidak usah mas sudah dekat situ kok” tolak Bu Darmi.
Aku tahu Bu Darmi pasti berjalan dari rumah anaknya yang berjarak sekitar empat kilometer dari rumahnya, akupun memaksanya untuk mau kubonceng.
“Bapak tidak ikut pulang bu?” tanyaku.
“Lho Bapak kan tidak kerumah Samsu” jawab Bu Darmi.
“Kok tadi pagi tidak ada Bu?”
“Capek mungkin Mas”
Aku hanya ber owh ria. Bu Darmi sedikit terkejut ketika melihat lampu halamannya masih menyala. Bu Darmi tidak langsung meuju pintu, namun mencari tempat dimana kunci rumah biasa mereka tinggalkan ketika pergi. Dan sepertinya dia tidak menemukannya,
“Paaaaak, Bapaaaaak” teriak Bu Darmi memanggil suaminnya sambil mengetok pintu.
Tidak ada jawaban apapun yang terdengar dari dalam rumah, Bu Darmi pun berputar menuju belakang rumah, namun sepertinya dia tidak mendapatkan apa-apa. Bu Darmi pun memeriksa jendela yang ada di samping rumah yang ternyata tidak terkunci. Jendela itu adalah jendela kamarnya, tiba-tiba Bu Darmi berteriak histeris,
“BAPAAAAAAAAAK, BAPAAAAK, BAPAAAAAAAK”
Bu Darmi menangis sejadi-jadinya dan mengundang rasa penasaran para tetangga yang kemudian mendekati Bu Darmi.
“Ada apa Bu?” Tanya beberapa tetangga bersaut-sautan.
“Pak Darmo, Pak Darmo” kata bu darmi sambil menunjuk-nunjuk jendela kamarnya.
“Pak Darmo kenapa Bu?” pertanyaan lain terlontar dari beberapa tetangga.
Bu Darmi kembali memanggil nama Pak Darmo kemudian pingsan. Dengan cekatan aku dan beberapa tetangga menenggok jendela yang di maksud Bu Darmi dan membukanya,
“Astahfirullahal’adziiim” teriakku dan dua orang tetangga yang sama-sama menenggok kedalam kamar Bu Darmi.
Badan Pak Darmo terbujur kaku bersimbah darah diatas ranjangnya.
Kartasura 04 mei 2011
jek… ni blog ane yg bru. mmpir n pasang link blog ane yg ni d blog ente y…
wajib poko’a, fardu ‘ain… hahhaha,
keep posting jek, mantab lah…