Tag

, ,

By : Akido Akida

 

Upay, begitu teman-temannya memanggilnya, berumur kira-kira tiga belas tahun, salah seorang pengamen di stasiun Citayam Depok. Matahari sudah sedikit condong ke barat, namun suasana masih terasa panas, ditambah padatnya penumpang kereta api listrik atau yang biasa disebut KRL yang menghubungkan Jakarta-Bogor.

 

Lagi-lagi aku mengamatinya didalam KRL sedang membawa gitar kecil. Sudah lama sebenarnya aku memperhatikannya, dia berbeda dengan pengamen-pengamen lain, yang kelihatan dekil dan kumuh. Upay lebih bersih dan lebih rapi dibandingkan teman-temannya. Hari itu KRL sedikit longgar, di tengah lamunanku kudengar suara cempreng Upay sedang menyanyikan sebuah lagu religi yang baru terkenal saat ini.

 

Stasiun Citayam sudah tak jauh lagi, aku yakin Upay pasti juga akan turun di stasiun Citayam, kuikuti Upay dengan pandanganku setelah kujejalkan uang seribu rupiah kedalam kantong plastik dari bungkus permen terbalik yang di sodorkannya kepadaku. Upay tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Aku sudah tak bisa lagi membendung rasa penasaranku tentang sosok yang sering dipanggil Upay itu. Setelah turun dari kereta, akupun mencari sosok Upay, nah itu dia, Upay baru saja turun dari kereta, dengan sedikit berlari akupun mengejarnya.

“Upay!” panggilku sambil kutepuk pundaknya.

Upay kaget, memandang wajahku dengan kecurigaan.

“Ups, sory kenalin, aku Angga, bisa ngobrol sebentar gak?” tanyaku.

“Maaf Pak, aku harus ngamen” jawabnya ketus.

“Nanti uang ngamenmu aku ganti” tawarku.

Upay terdiam beberapa saat.

“Okelah kalo gitu” jawabnya.

“Janji ya Pak, awas kalau Bapak bohong, preman disini temenku semua” ancam Upay.

“Waaah jangan panggil Pak dong, panggil Kak saja, masih bujang, heheheh. Santai saja, aku gak bakal bohongi kamu”

“Kita ngobrolnya sambil makan yuk, kamu mau makan dimana?” lanjutku.

Upay membawaku ke sebuah warteg yang tak jauh dari stasiun.

“Nama kamu aslinya siapa sih?” tanyaku sambil menunggu pesanan kami.

“Panggil saja Upay Kak, aku lebih seneng dipanggil Upay” jawabnya.

“Kamu masih sekolah?”

“Mas, ini nasinya mas” kata penjaga warteg menyela pembicaraan kami.

“Masih Kak”

“Sekolah dimana?” perasaanku makin penasaran, benarkah dia yang pernah ku lihat saat itu?.

Sambil memakan nasinya Upay menyebutkan sebuah sekolah yang sudah tak asing lagi bagiku, rasa penasarankupun terpuaskan sudah, memang dia benar-benar orang yang kulihat waktu itu, ketika aku harus menemui seorang sahabatku di tempat dia mengajar.

“Kenal Kak Zaki dong?” tanyaku.

“Kok Kakak kenal?” tanya upay kaget.

“Kenal dong, dia kan temen kuliah Kakak, nih Kakak mau maen kerumahnya” jawabku.

“Kak jangan bilang ke Kak Zaki ya kalau aku ngamen, plisss” pinta Upay.

“Emang kenapa? Ngamen kan gak haram” belaku.

“Aku malu Kak” jawab Upay.

“Emang kamu gak pernah gitu ketemu guru-guru atau temen-temen pas ngamen?”

“Aku ngumpet kalau ngliat mereka Kak”

“Orang tuamu tahu kamu ngamen?”

“Mereka udah pisah Kak, mana peduli sama aku?”

Akupun terdiam,

“Maaf Pay, Kakak gak tahu”

“Gak pa-pa Kak, udah biasa kok”

“Kamu tinggal sama siapa?”

“Sendirian Kak, ayah sama ibu gak pernah pulang”

“Terus yang biayain sekolah kamu siapa?”

“Ya nabung Kak, hasil ngamen kutabung buat bayar sekolah” jawab Upay seakan tanpa beban.

 

Lagi-lagi aku dibuatnya terdiam tanpa kata. Sampai hari ini saja aku masih minta kiriman dari rumah untuk kehidupanku sini, sedangkan Upay, yang berumur lebih muda bahkan lebih pantas sebagai adikku sudah bisa membiayain diri sendiri demi sekolahnya, akupun bertasbih dalam hati, air mataku hampir saja menetes. Satu pelajaran berharga yang kudapat dari Upay, mengeluh takkan pernah ada hasilnya. Begitulah sosok Upay memberiku inspirasi menghadapi hidupku, meberiku sebuah pelajaran yang sangat berharga, bahkan ia tak mau guru-gurunya bahkan teman-temannya mengetahui dia adalah seorang pengamen jalanan.

“Sehari berapa duit kamu dapetin Pay?” tanyaku penasaran.

“Duapuluh lima ribu Kak, lima ribu buat makan duapuluhnya buat bayar sekolah” jelas Upay.

“Preman-preman disini gak minta jatah Pay?”

“Ya minta Kak, sehari duaribu”

“Harus tuh Pay?”

“Ya enggak sih, kalau hari ini misalnya dapetnya mepet ya terpaksa besoknya bayar dobel”

“Nambah ya Pay?” tawarku ketika kulihat piring Upay sudah kosong.

“Gak ah Kak”

“Ya udah habisin saja punya Kakak” kataku sambil kusodorkan piring yang baru kumakan sesendok.

“Kamu sehari cuma makan lima ribu doang Pay?”

“Iya Kak, daripada aku gak sekolah” jawab Upay sambil menghabiskan piring yang kusodorkan.

“Makan apa tuh Pay?”

“Paling mie doang Kak” lagi-lagi Upay menjawab tanpa ada beban sama sekali.

Aku terdiam, tenggorokanku makin terasa pekat, tak tahan menahan sedih melihat sesosok Upay, kuminum air putih yang kupesan dengan nasiku tadi.

“Upay, Upay, sungguh tegarnya dirimu menghadapi hidup ini” kataku dalam hati.

“Malang betul ya Kak nasibku” kata Upay menyadarkan lamunanku.

“Layukallifullahu nafsan illa wus’aha Pay, Allah gak akan membebani hambaNya melebihi kemampuan seorang hamba tersebut Pay” kataku menghiburnya.

“Justru Kakak bangga bisa kenal sama Upay, sebenernya kakak malu sama Upay, sudah besar gini masih saja minta uang ke orang tua, Kakak salut sama Upay” lanjutku.

Upay sudah menghabiskan piring keduanya, setelah membayar semuanya, kugenggamkan dua lembar sepuluhribuan ke tangan upay sambil berkata,

“Nih Pay janji Kakak, semoga bermanfaat Pay”

“Makasih Kak, lumayan nih buat nambahin tabungan sekolah” ujar Upay.

“Kakak punya Efbe kan?” tanya Upay polos.

“Ya punyalah”

“Add Efbe Upay dong Kak” pinta Upay.

“Lho Upay punya Efbe juga?” tanyaku penasaran.

“Walaupun pengamen Kak, tapi Upay gak gaptek Kak” jawab upay pede.

“Waah bagus tuh” timpalku.

“Waaah hape Kakak bagus” kata Upay ketika kukeluarkan sebuah hape Nokia dari sakuku.

“Ah biasa aja, tetep aja Kakak kalah sama Upay, Upay udah bisa makan pake duit sendiri bahkan sekolah bayar sendiri” elakku.

“Waaah Kakak ngledek nih”

Aku hanya tersenyum.

“Nih tulis Efbe Upay” kataku sambil menyodorkan hape yang sudah terkoneksi dengan Efbe.

“Eh, Kak boleh ya Upay buka Efbe Upay bentar, sekalian mengkonfirmasi Efbe Kakak” pinta Upay.

“Pakai aja Pay”

Dengan sumringah Upay mulai mengotak-atik Efbe miliknya.

Tak terasa kumandang adzan Asar sudah mulai terdengar bersahut-sahutan dari beberapa speaker mushola sekitar stasiun.

“Pay sholat dulu yuk” ajakku.

“Yuk Kak”

“Kalau tadi Upay bilang, walaupun pengamen tapi Upay gak gaptek, nah giliran Kakak ngomong, walaupun Upay pengamen, tapi Upay juga harus rajin sholat dan berdoa, biar dimudahkan rejeki dan segala urusan Upay”

“Siiip Kak, Tapi kata Kak Zaki, sholat nomer dua Kak”

“Ya syahadat yang nomer satu kan?” potongku.

“Yaaah Kakak udah tau” ujar Upay kecewa.

“Itu mah kata-kata Kak Zaki tiap kali Kakak ajak sholat”

“Hahahhahahhaha” kami tertawa bersama dan menuju mushola terdekat.

Siang itu sungguh siang yang sangat berkesan bagiku, siang yang sangat beruntung bisa berkenalan seorang siswa sekaligus pengamen. Semangat belajarku kini tiba-tiiba menggebu-gebu setelah ngobrol dengan sesosok Upay.

“Semoga Allah selalu menjagamu dan menyertai setiap langkahmu, semoga Allah memberikan kesuksesan untukmu” doaku dalam hati.

 

Rumah susun, 02 Maret 2011

 

Special buat sesosok Upay! Semoga engkau bisa mengambil pelajaran dari kehidupan yang kau jalani, doaku menyertaimu.