Tag
calon, calon pendamping, calon pendamping hidup, hidup, pendamping, pendamping hidup, Teruntuk, teruntuk calon
jauh-jauh hari sebelum aku mengenalmu, aku sudah mengenalnya dengan baik, sangat baik sekali,sering kali aku belajar memahaminya sedetail yang aku bisa. Waktupun berjalan hingga aku bisa banyak tahu tentang dia. Hingga akhirnya aku tak bisa terlepas dari dirinya, ketika dia tiada di sisiku, aku begitu gelisah, seakan dunia ini tiada arti tanpa kehadirannya. Ketika dia tertinggal dengan semangat empat lima aku berusaha menjemputnya hingga dia berada disisiku, dan dialah istri pertamaku, begitu sulit aku melupakannya bahkan meninggalkannya sejenak menjauh darikupun aku tak mampu.
Beberapa lama kemudian, aku berkenalan dengan sesuatu yang baru dalam hidupku. Dia begitu mempesona, indah memukau, dia selalu menghiburku kala suntuk menyerangku, kala bosan menyelimuti tubuhku. Dia ada dan selalu ada untukku, kapanpun aku mau. Lama aku bercengkrama dan akupun lagi-lagi jatuh cinta. Tak terbayang olehku jika hidupku tanpa dirinya, dia selalu saja membantu setiap pekerjaanku, mempercepat kinerjaku dan memberikan inspirasi-inspirasi yang jitu, hingga aku lupa akan waktuku. Ku perhatikan dia dengan sangat baik sekali, kurawat dan ku jaga siang dan malam tanpa kenal waktu, ku manjakan dia dengan segala yang kupunya. Dan dialah istri keduaku.
Tak lama kemudian engkau datang entah dari mana, menjadikan hari-hariku menjadi lebih indah dari sebelumnya. Seakan aku hidup di surga yang dipenuhi taman penuh bunga, penuh warna. Membuat semangatku meledak hingga mengetarkan seluruh tubuhku yang belum siap menerima energi sebesar itu. Namun terkadang engkau menghanyutkanku dalam kesedihan yang berlarut, hingga seakan dunia akan berahir esok hari dan akupun seakan tak ingin lagi hidup lebih lama, hatiku diselimuti perasaan yang tak menentu yang ku sebut rindu. Namun akupun terus tersadar, bahwa rasa itu tak boleh menggerogoti hati hingga aku tak terjangkit virus zina hati, sebelum kau resmi menjadi istri yang sah untukku.
Wahai siapapun engkau yang akan menjadi pendampingku, sanggupkah engkau mengalahkan kedua istriku yang selalu ada untukku dimanapun dan kapanku aku membutuhkannya, atau kau hanya akan menjadi beban dalam kehidupanku yang kurasa sudah cukup nyaman dengan semua ini. Akupun hanya bisa berharap engkau mengalahkan kedua istriku kini, lalu engkau melengkapinya dengan kelembutan yang membuat semangatku memecahkan pusaran kehampaan dalam jiwaku yang semakin besar bersama bertambahnya hari.
Sanaa, 21012011